Minggu, 16 November 2014

manusia sebagai khalifah

Manusia diberi “wewenang” mengelola dan memanfaatkan alam semesta, diberi kedudukan “istimewa” sebagai khalifah. Khalifah arti harfiahnya adalah pengganti atau wakil. Menurut ajaran Islam, manusia selain sebagai abdi diberikan kedudukan sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta terutama ‘mengurus’ bumi ini. Agar dapat menjalankan kedudukannya itu, manusia diberi bekal berupa potensi diantaranya adalah akal yang melahirkan berbagai ilmu sebagai alat untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi ini. Ketika Adam sebagai manusia diangkat menjadi khalifah di bumi, Allah mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan tentang “nama - nama (benda)”. Dalam bagian pertama ayat 31surat Al-Baqarah (2) Allah menyatakan, “Dia telah mengajarkan kepada Adam nama - nama (benda) seluruhnya..”. Pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Adam ini merupakan keunggulan komparatif manusia dari makhluk - makhluk lainnya.


                Dengan akal dan ilmu yang dikuasainya manusia akan mampu menjalankan kedudukannya sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi ini untuk kepentingan hidup manusia serta makluk lain dilingkungannya dan akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Manusia akan ditanya apakah dalam menjalankan ‘amanat’ yang dipercayakan kepadanya itu, ia mengikuti dan mematuhi pola dan garis - garis besar kebijaksanaan yang diberikan kepadanya melalui para nabi dan rasul yang termuat dalam ajaran agama.

Manusia mempunyai akal yang bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.