Manusia diberi “wewenang”
mengelola dan memanfaatkan alam semesta, diberi kedudukan “istimewa” sebagai
khalifah. Khalifah arti harfiahnya adalah pengganti atau wakil. Menurut ajaran
Islam, manusia selain sebagai abdi diberikan kedudukan sebagai khalifah mengelola
dan memanfaatkan alam semesta terutama ‘mengurus’ bumi ini. Agar dapat
menjalankan kedudukannya itu, manusia diberi bekal berupa potensi diantaranya
adalah akal yang melahirkan berbagai ilmu sebagai alat untuk mengelola dan
memanfaatkan alam semesta serta mengurus bumi ini. Ketika Adam sebagai manusia
diangkat menjadi khalifah di bumi, Allah mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan
tentang “nama - nama (benda)”. Dalam bagian pertama ayat 31surat Al-Baqarah (2)
Allah menyatakan, “Dia telah mengajarkan kepada Adam nama - nama (benda)
seluruhnya..”. Pengetahuan yang diajarkan Allah kepada Adam ini merupakan
keunggulan komparatif manusia dari makhluk - makhluk lainnya.
Dengan akal dan ilmu yang dikuasainya manusia akan
mampu menjalankan kedudukannya sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam
semesta serta mengurus bumi ini untuk kepentingan hidup manusia serta makluk
lain dilingkungannya dan akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.
Manusia akan ditanya apakah dalam menjalankan ‘amanat’ yang dipercayakan
kepadanya itu, ia mengikuti dan mematuhi pola dan garis - garis besar
kebijaksanaan yang diberikan kepadanya melalui para nabi dan rasul yang termuat
dalam ajaran agama.
Manusia mempunyai akal yang bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar.